Aku harus bahagia atau tidak?
Ketika kudapati dirimu dalam langkah raguku, kau yang sedang membaca buku bersampul merah itu tiba-tiba menutup buku sembari seperti memastikan siapa orang dibalik pintumu. Barangkali kau sedikit kecewa ketika mendapati sang aku lagi, yang dengan sangat percaya diri muncul di hadapanmu. Tapi kau semestinya cukup lega, kedatanganku bukan untuk menggugurkan rindu, melainkan hanya sebagai penghantar amanat; mengahantarkan undangan pernikahan sahabat.
Aku harus tersenyum atau kulipat dan kuinjak saja senyum-senyum itu? ketika langkah pelanmu menuju ke aku yang tetap berdiri sejauh sekian meter di balik pintu ruang tengahmu?
Aku harus senang atau sedih?
ketika dengan buru-buru kusampaikan maksud kedatanganku, lantas dengan tergesa pula aku undur diri tanpa basa-basi?
Tapi jika boleh jujur dan tanpa perlu pertimbangan darimu.. aku tentu bahagia dapat lagi berjumpa denganmu, lebih bahagia lagi ketika aku bisa berdiri tegar di hadapanmu tanpa merengek atas luka yang tersobek. Senja kala itu benar-benar berpihak padaku atas kemenangan perasaanku, aku yang berusaha setenang mungkin meninggalkan halaman rumahmu yang luas itu dan melihat klise masa lalu atas segala apa yang pernah tertoreh di sana. aku tersenyum sedikit kala mataku tertuju pada tempat duduk keramik di salah satu sudut halaman, aku tak memastikan mata sang empunya rumah, tapi perasaanku dia sudah tak lagi memperhatikanku. Tempat duduk keramik itulah yang menjadi persinggahanku pertama kali sebelum ia singgah di sudut hatiku.
Namun bersamaan dengan aku yang telah sempurna membelokkan motorku dan ban depan motorku telah keluar dari batas rumah-jalan raya, bayangan wanita lain yang mencintainya serta janji masa lalu turut mengetuk sisi sunyiku, pikiranku mendadak ramai oleh tertawaanku sendiri.
Aku sudah Move on kah? Barangkali..!
Sore itu kuhantarkan undangan sahabatku, seharusnya tak ku beritahu, biar kau mengiranya aku yang menikah. Dan kau akan berbahagiakan karena itu? Maka doakan saja agar selekasnya.
Komentar
Posting Komentar